CIANJUR – Harapan untuk tumbuh sehat melalui sepiring makanan bergizi berubah menjadi mimpi buruk yang memilukan. Selasa pagi (27/1/2026) yang seharusnya ceria di Sekolah Dasar Desa Wargasari, Kadupandak, mendadak berubah menjadi panggung trauma saat puluhan siswa bertumbangan satu per satu, merintih kesakitan menahan racun yang menggerogoti tubuh mungil mereka.
Suasana belajar yang tenang pecah oleh jerit tangis dan suara muntah yang bersahutan. Tidak lama setelah menyantap menu “Makan Bergizi Gratis” (MBG), wajah-wajah ceria para siswa berubah pucat pasi. Ruang kelas yang semula penuh tawa berganti menjadi ruang darurat yang mencekam.
Orang tua siswa berlarian dalam kepanikan, menggendong anak-anak mereka yang sudah dalam kondisi lunglai dan mata yang sayu. Di Puskesmas Kadupandak, pemandangan memilukan terlihat jelas: lorong-lorong dipenuhi ranjang pasien darurat. Sebanyak 28 anak tergeletak tak berdaya dengan selang infus menusuk tangan kecil mereka.
Tragedi ini semakin memuncak saat 11 siswa dilaporkan mengalami kondisi kritis akibat dehidrasi berat. Suara sirine ambulans yang meraung-raung di jalur terjal menuju RSUD Pagelaran seolah menjadi penanda betapa gentingnya situasi saat itu.
“Anak saya terus-terusan muntah sampai badannya dingin dan kaku. Dia hanya bisa memanggil nama saya dengan suara parau,” ungkap salah satu ibu korban sambil terisak di depan ruang perawatan.
Berdasarkan keterangan saksi, ironi pahit terungkap. Program yang bertujuan memberikan nutrisi terbaik ini diduga kuat menyajikan daging ayam yang sudah tidak layak konsumsi. Bau busuk yang sempat tercium oleh para siswa seolah diabaikan, hingga akhirnya menjadi racun yang merusak hari mereka.
“Bau ayamnya memang beda, tapi anak-anak tetap makan karena mereka lapar dan percaya itu makanan sehat. Ternyata itu racun,” ujar seorang warga dengan nada geram dan kecewa.
Kini, Desa Wargasari seolah diselimuti awan mendung. Tidak ada lagi keriuhan anak-anak bermain di lapangan sekolah. Yang tersisa hanyalah kecemasan mendalam di hati para orang tua dan rasa sakit yang masih dirasakan para korban di bangsal rumah sakit.
Kapolsek Kadupandak, AKP Deden Hermansyah, bersama tim medis masih terus berjibaku di lapangan. Meski penyelidikan terus berjalan, luka fisik dan trauma psikologis yang dialami anak-anak ini dipastikan akan membekas lama. Sebuah petaka yang terjadi justru saat mereka sedang berupaya mendapatkan hak mereka untuk hidup lebih sehat. (Rst)





















