CIANJUR – Gabungan organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) dan Siswa Pecinta Alam (SISPALA) se-Kabupaten Cianjur menggelar diskusi mendalam mengenai keterkaitan antara perilaku manusia dengan risiko bencana lingkungan. Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (25/01/2025) ini bertujuan untuk menumbuhkan nalar kritis para penggiat alam terbuka.
Koordinator Komite Sub DAS Cikundul, Herry Trijoko, yang hadir sebagai narasumber utama menekankan bahwa bencana alam seringkali merupakan akumulasi dari tindakan manusia yang dianggap sepele.

“Bencana bukanlah peristiwa yang datang tiba-tiba tanpa sebab. Ia adalah hasil dari rangkaian tindakan kecil yang dilakukan berulang kali, seperti pengelolaan sampah yang buruk, perubahan tata guna lahan yang tidak terkendali, hingga sikap abai terhadap kondisi lingkungan sekitar,” jelas Herry dalam siaran resminya.
Dalam dialog terbuka tersebut, para peserta tidak hanya diajak untuk sekadar tahu (sadar), tetapi didorong untuk mencapai level “kesadartahuan”. Konsep ini menitikberatkan pada keberanian individu untuk terus belajar, mengoreksi diri sendiri, dan memikul tanggung jawab atas pilihan hidup sehari-hari yang berdampak pada ekosistem.
Kegiatan ini diharapkan mampu mengubah paradigma anggota MAPALA dan SISPALA. Mereka diharapkan tidak hanya aktif dalam kegiatan olahraga alam bebas, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan (agent of change) yang reflektif dan konsisten dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Diskusi diakhiri dengan pernyataan komitmen bersama oleh seluruh peserta untuk:
-
Menjaga jejak ekologis di setiap aktivitas.
-
Membangun kebiasaan baik dalam pengelolaan lingkungan mulai dari lingkup terkecil.
-
Menumbuhkan kesadaran kritis di komunitas masing-masing.
Melalui langkah ini, MAPALA dan SISPALA Cianjur menegaskan peran mereka sebagai garda terdepan dalam upaya mitigasi bencana berbasis penyadaran masyarakat di wilayah Cianjur. (Rst)





















