Cianjur, — Suasana lengang di kantor Desa Sukamantri, Kecamatan Karangtengah, tiba-tiba pecah seolah menjadi panggung kecil yang disapa irama musik tradisional, Jumat (0/12/2025) sore.
Kepala Desa Sukamantri, Kusnandar, menceritakan kepada awak media bahwa sekitar pukul 16.30 WIB, kantor desa mulai memasuki fase “modus hemat energi” sepi, tenang, dan pegawai yang mulai fokus menatap jam pulang ketimbang berkas.

“Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara angklung, sayup-sayup, kayak notifikasi wa yang volumenya kecil,” ujarnya sambil tersenyum.
Suara itu semakin jelas dan akhirnya lewat tepat di depan kantor desa. Rombongan pengamen tradisional yang membawakan musik angklung tersebut sontak menarik perhatian.
“Saya langsung panggil. Bagus sekali, mereka masih melestarikan musik tradisional. Apalagi mereka orang Jawa, bukan Sunda. Saya pikir angklung itu cuma kita yang paling jago, eh ternyata kompetisi semakin ketat,” candanya.
Sore yang tadinya “sepi bak kuburan sebelum ada hantu pun datang” akhirnya berubah lebih hidup. Kusnandar meminta dua lagu untuk menghibur perangkat desa yang sejak tadi berjuang melawan rasa kantuk di jam-jam kritis.
Dua lagu pun mengalun, menghangatkan suasana bahkan ada perangkat desa yang hampir refleks ingin goyang, namun mengurungkan niat demi menjaga wibawa jabatan.
Tanpa disadari, dengan seringnya alunan musik tradisional itu berdendang, jari-jemari dan badan perlahan ikut mengikuti irama. “Sedikit goyangan ternyata bikin badan kembali melek dan semangat lagi. Hilang langsung tuh kantuk yang tadi,” ujar Kusnandar sambil tertawa.
(Rst)





















