CIANJUR|DETIKUPDATE.COM – Senin pagi, 27 April 2026, suasana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Cianjur terasa berbeda. Bukan hanya soal tasyakuran Hari Bakti Pemasyarakatan ke-62, tapi tentang perasaan yang pelan-pelan menghangat di antara mereka yang hadir.
Di balik tembok yang selama ini identik dengan batas dan hukuman, hari itu justru terasa lebih manusiawi. Sejumlah keluarga warga binaan datang ada yang menggenggam harap, ada yang menyimpan rindu, dan ada pula yang menahan haru.
Acara memang berlangsung sederhana, terhubung secara virtual dengan peringatan nasional Direktorat Jenderal Pemasyarakatan. Namun di sudut-sudut ruangan, yang terasa bukan layar digital melainkan kedekatan.
Penghargaan diberikan kepada para mitra, Bupati Cianjur, Polres, BNNK, hingga tokoh masyarakat. Nama-nama itu disebut, tepuk tangan terdengar. Tapi momen paling sunyi sekaligus paling dalam justru datang setelahnya.
Saat beberapa keluarga warga binaan maju menerima bantuan gerobak usaha.
Bantuan itu mungkin terlihat sederhana. Sebuah gerobak.
Namun bagi mereka, itu adalah harapan yang bisa disentuh kesempatan untuk bertahan, untuk memulai lagi, untuk tidak menyerah pada keadaan.
Ada mata yang berkaca-kaca. Ada tangan yang menggenggam lebih erat dari biasanya.
Karena di balik setiap warga binaan, ada keluarga yang ikut menjalani hari-hari yang tidak mudah.
Kepala Lapas Kelas IIB Cianjur dalam sambutannya mengingatkan, bahwa pemasyarakatan bukan sekadar menjalankan hukuman.
“Ini tentang mengembalikan manusia. Tentang memberi mereka kesempatan untuk pulang, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara utuh,” ucapnya.
Tema “Pemasyarakatan Kerja Nyata Pelayanan Prima” terasa bukan sekadar slogan. Di hari itu, tema itu hadir dalam bentuk nyata dalam kepedulian, dalam sentuhan, dalam harapan yang diberikan.
Acara ditutup dengan pemotongan tumpeng. Tawa kecil mulai terdengar, obrolan hangat mengalir. Untuk sesaat, batas antara “di dalam” dan “di luar” terasa memudar.
Dan mungkin, di hari itu, yang paling terasa bukanlah peringatannya.Melainkan keyakinan, bahwa setiap orang selalu punya kesempatan untuk memulai kembali.*** (Rst)





















