Losari,Cirebon //detikupdate.com – Pertemuan mediasi yang digelar di kantor Korwil Losari, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon berlangsung penuh kekeluargaan dan menghasilkan kesepakatan damai antara pihak sekolah, guru, dan wali murid, Nurjamal, terkait persoalan pengaturan tempat duduk dan beban tugas siswa.kamis 4 Juni 2026
Pertemuan dipimpin langsung Koordinator Wilayah (Korwil) Pendidikan Kecamatan Losari, Elis Susanti.
Dalam sambutannya, Elis menegaskan bahwa pertemuan ini bertujuan meluruskan informasi dan mencari solusi terbaik tanpa perlu melaporkan persoalan ke tingkat yang lebih tinggi.
“Masalah ini sebenarnya tidak besar dan harusnya bisa selesai di tingkat sekolah maupun kecamatan. Kita ingin mencari titik temu, agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan dan masalah tidak melebar ke Dinas Pendidikan,” tegas Elis.
Awal Persoalan Bermula
Kepala Sekolah SDN 1 Losari lor, H. Munadi, menjelaskan bahwa akar masalah bermula dari kebijakan pengaturan ulang tempat duduk (rolling) yang dilakukan secara berkala demi pemerataan posisi duduk dan melatih siswa bersosialisasi dengan teman yang berbeda. Namun, pergantian tersebut membuat putri Nurjamal merasa tidak nyaman saat harus duduk sebangku dengan anak laki-laki, hingga menangis dan mengadu ke orang tua.
Wali Kelas 4, Wahyuni, menambahkan, rolling dilakukan setiap bulan sejak awal tahun ajaran agar siswa terbiasa bekerja sama dengan siapa saja—baik perempuan maupun laki-laki, dan baik yang berprestasi maupun yang butuh pendampingan. Pendekatan santai pun sudah diterapkan agar siswa merasa akrab. Namun, kondisi di jam terakhir sekolah membuat komunikasi lebih sulit dilakukan saat itu.
Keluhan Akumulasi dari Orang Tua
Nurjamal,wali murid yang juga berprofesi sebagai pengacara, menyampaikan bahwa kekhawatirannya bukan semata soal tempat duduk, melainkan akumulasi keluhan yang dirasakan anak:
– Beban tugas yang berat: Pemberian pekerjaan rumah (PR) baik kelompok maupun perorangan terkadang berlebihan dan memakan waktu hingga larut malam, bahkan sampai pukul 21.00. Hal ini mengganggu jadwal mengaji anak yang rutin berlangsung pukul 13.00 setiap harinya.
– Kekhawatiran lain: Ia juga sempat mendengar keluhan dari sesama wali murid terkait dugaan praktik jual beli LKS dan ponsel di lingkungan sekolah, meski dirinya tidak terlibat langsung.
– Titik puncak: Saat anak menangis dan menyatakan enggan kembali ke sekolah karena merasa malu dengan posisi duduknya, Nurjamal akhirnya menyampaikan teguran melalui pesan kepada Kepala Sekolah dan mengancam akan membawa masalah ke Dinas Pendidikan jika tidak ada tindak lanjut.
Hasil Mediasi: Damai & Komitmen Bersama
Setelah saling mendengarkan penjelasan, memahami maksud masing-masing pihak, dan menyadari adanya potensi kesalahpahaman akibat nada tulis pesan yang berbeda makna saat dibaca, pertemuan berakhir dengan kesepakatan:
✅ Saling Memaafkan: Seluruh pihak sepakat saling memaafkan atas kesalahpahaman komunikasi dan ketidaknyamanan yang timbul.
✅ Evaluasi Tugas: Sekolah berkomitmen meninjau kembali jumlah dan bobot tugas agar tidak mengganggu kegiatan keagamaan maupun istirahat siswa.
✅ Perbaikan Mekanisme Rolling: Pengaturan tempat duduk tetap dilanjutkan sebagai bentuk pembelajaran sosial, namun dengan pendekatan yang lebih halus dan memperhatikan kenyamanan psikologis anak.
✅ Tidak Ada Laporan Lanjutan: Perselisihan dinyatakan selesai secara musyawarah dan kekeluargaan, tanpa perlu membawa ke jenjang yang lebih tinggi.
Sementara tanggapan dari Abu Bakar S,PD selaku ketua PGRI menyampaikan,intinya siswa tersebut hanya ingin tempat duduk yang nyaman bersama teman yang cocok dalam belajar dan menginginkan siswa tersebut bisa masuk sekolah lagi.
“Alhamdulillah, akhirnya kita bisa saling memahami, saling rangkul, dan melupakan persoalan yang sebenarnya tidak perlu diperpanjang. Semoga hubungan baik antara sekolah dan wali murid semakin erat demi kemajuan anak-anak,” tutup Kepala Sekolah H. Munadi disambut tepuk tangan seluruh peserta rapat.( Gofur )





















