Bekasi Utara — Senja belum sepenuhnya tenggelam, namun aroma keresahan sudah lebih dulu turun di tengah warga. Berawal dari bisik-bisik masyarakat yang lelah melihat transaksi gelap obat terlarang Tipe G Tramadol, Eximer, XXX dan kawan-kawannya, berjalan seperti dagang bakso di pinggir jalan, akhirnya sebuah langkah besar pun lahir.
Ketua Umum FORTAL (Forum Masyarakat Anti Obat Terlarang), Kang Edo, tak menunggu besok atau lusa. Ibarat pendekar turun gunung, ia langsung memimpin operasi penelusuran di Bekasi Utara. Informasi awal ia terima dari warga yang sudah jengah melihat peredaran obat haram yang dijual blak-blakan pada sore hari, seolah hukum hanya dekorasi.
Dalam langkahnya, ia tidak sendiri. Ketua Umum DPP LSM GANAS (Gada Sakti Nusantara), Brian Shakti, turut mendampingi. Angel Vision juga hadir sebagai mata media untuk memastikan bahwa kebenaran tidak hanya terdengar, tetapi juga terlihat.
“Kami mungkin berasal dari lembaga berbeda, tapi tujuan kami satu: menyelamatkan generasi muda dari kehancuran,” tegas Kang Edo, seperti suara palu godam yang memecah tumpukan kebiasaan buruk di masyarakat.
Sesampainya di titik laporan, tanda-tanda gelap mulai tampak jelas. Orang datang dan pergi seperti antrean minimarket, namun yang dibeli bukan kebutuhan harian, melainkan tiket perlahan menuju kehancuran. Setelah memastikan informasi akurat, tim langsung mengetuk pintu toko yang diduga menjadi sarang peredaran.
Perdebatan sempat menjadi bumbu panas di lokasi. Namun kebenaran akhirnya mengambang ke permukaan, toko tersebut memang menjual obat-obatan daftar G tanpa izin. Barang bukti berserakan sebagai saksi bisu, bungkusan Tramadol, Eximer dan lembaran uang hasil transaksi instan.
Tak sampai 20 menit berselang, anggota Polsek Bekasi Utara tiba. Barang bukti diamankan, dan sang penjual dibawa untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Dalam pemeriksaan awal, tersangka justru memberi pengakuan mengejutkan: ia hanya bidak di papan catur. Ada pemain lain, “bos besar”, yang diduga menjadi sutradara jaringan peredaran obat-obatan terlarang di kawasan tersebut.
Kang Edo pun menegaskan, kasus seperti ini tidak boleh berhenti di permukaan.
“Kalau pengecernya mengaku punya bos, maka bos lah yang harus dicari. Jangan biarkan akar kanker sosial ini tumbuh subur lalu menghancurkan masa depan anak bangsa,” ujarnya dengan nada tajam.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak bungkam dalam menghadapi situasi seperti ini.
“Tramadol, Eximer dan obat-obatan serupa adalah racun masa depan. Jangan takut melapor. Kita harus bergerak bersama,” serunya.
Aksi ini menjadi pesan keras bagi para pemain gelap: era nyaman bersembunyi mungkin telah selesai. Dan jika benar ada sindikat besar di balik layar, publik berharap langkah tegas di Bekasi Utara ini menjadi pintu masuk untuk mengungkap mereka satu per satu. (Rst).





















