Jakarta — Angin perubahan kembali bertiup dari tubuh Nahdlatul Ulama. Dari balik pesantren dan majelis-majelis ilmu, Jaringan Santri Nusantara (JSN) melalui Ahmad Rizki Setiawan menggebrak dengan seruan keras: sang nakhoda PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, diminta menepi dari kemudi. Seruan itu muncul bak dentang lonceng darurat, menyikapi gelombang kegelisahan yang kian meninggi di kalangan santri dan kader Nahdliyin.
Rizki menggambarkan bahwa dinamika internal ini bukan lagi sekadar silang pendapat. Suasana telah berubah menjadi badai batin, saat keputusan Rais Aam hadir layaknya kompas yang menunjukkan arah pasti: waktu untuk merapikan layar organisasi telah tiba, dan semua kapal dalam armada NU harus kembali patuh pada arahan sang pemegang otoritas tertinggi.
“Keputusan Rais Aam bukan sekadar imbauan, tapi petunjuk yang tidak bisa ditawar. Jika NU ingin kembali teduh dan kokoh, maka semua posisi, termasuk Ketua Umum PBNU, harus tunduk pada kehendak ulama,” tegas Ahmad Rizki.
Gelombang keresahan di akar rumput disebutnya tidak muncul begitu saja. Desas-desus kedekatan Gus Yahya dengan sosok internasional yang ditafsirkan publik sebagai berhaluan pro-Zionis menjadi bara yang menyulut api kegelisahan. Meski masih berupa isu, bayangannya dianggap cukup meretakkan keyakinan jamaah yang selama ini memandang NU sebagai benteng pembela kaum tertindas.
“Ketika muncul foto, agenda luar negeri, atau pertemuan yang ditangkap publik sebagai hubungan dengan pihak yang berseberangan dengan perjuangan Palestina, santri bertanya: ke mana arah kapal ini berlayar?” ujarnya.
JSN menegaskan, marwah NU tidak boleh retak hanya karena satu figur. Organisasi terlalu besar, terlalu bersejarah, dan terlalu mulia untuk dikorbankan oleh kontroversi yang berlarut. Karena itu, langkah mundur dianggap sebagai jalan terhormat—sebuah pengorbanan agar NU dapat kembali menegakkan panji perjuangan tanpa bayang-bayang kecurigaan.
“Kami tidak menghakimi individu. Kami hanya menempatkan NU di atas segala-galanya. Jika kelangsungan perjalanan kapal besar ini terancam, maka menepi adalah sikap kesatria,” ucap Rizki.
JSN menyatakan siap mengawal proses penyegaran organisasi setelah arahan Rais Aam ditegakkan. Baginya, NU kini membutuhkan suasana baru: lebih jernih, lebih teduh, dan kembali menyatu dengan denyut harapan umat.
(Rst)





















