CIANJUR | DETIKUPDATE.COM – Sebanyak 559 santri dari Pendidikan Anak Usia Dini Alquran (PAUD), Taman Kanak-kanak Alquran (TKA), dan Taman Pendidikan Alquran (TPQ) se-Kecamatan Pacet mengikuti wisuda santri Iqro jilid 1-6, khatmil Quran dan tahfidz juz 30 di Aula Rindu Alam Ciherang, Kamis (14/5/2026).
Kegiatan yang digelar Badan Koordinasi Lembaga Pendidikan Alquran (Badko LPQ) Kecamatan Pacet itu mengusung tema “Membangun Generasi Qurani Mantap dalam Tajwid, Fasih dalam Khatmil, Teguh dalam Hafalan untuk Membangun Peradaban Bangsa Islamik.”
Ketua Badko LPQ Kabupaten Cianjur, Daud Ekalaya, menjelaskan wisuda tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk penghargaan bagi santri yang telah memenuhi tahapan pembelajaran Alquran dengan standar tertentu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

“Hari ini saya perlu menjelaskan bahwa santri yang diwisuda itu tidak sembarangan. Pertama mereka harus tamat Iqro 1 sampai 6, artinya sudah bisa mengaji. Kedua sudah tahfidz juz 30 dan melalui tahsin serta munaqosah. Ketiga, bagi yang khatam Alquran juz 1 sampai 30 juga harus melalui proses penilaian terlebih dahulu,” ujar Daud.
Menurutnya, program haflah akhirussanah atau wisuda santri tersebut telah berjalan selama bertahun-tahun sejak berdirinya Badko LPQ di Kabupaten Cianjur.
Ia menegaskan, tujuan utama kegiatan tersebut adalah membangun kecintaan anak terhadap Alquran sekaligus memberikan motivasi kepada para santri dan orang tua.
“Inti dari wisuda ini untuk memotivasi agar santri cinta Alquran, bahagia dengan Alquran dan bangga dengan Alquran. Orang tua juga ikut terdorong mendidik anak dengan pondasi keagamaan,” katanya.
Daud menambahkan, pihaknya juga menerapkan standar ketat terhadap tenaga pengajar Alquran. Tidak semua guru dapat melakukan tahsin maupun munaqosah terhadap santri.
“Guru-gurunya juga harus melalui tahsin dan munaqosah terlebih dahulu. Bahkan ada aturan tersendiri untuk penguji tahfidz Alquran, jadi tidak sembarangan,” tegasnya.
Ia berharap kualitas santri di Kabupaten Cianjur ke depan semakin meningkat dan mampu menjadi kebanggaan masyarakat, sejalan dengan julukan Cianjur sebagai kota santri.
“Kalau Cianjur disebut kota santri tapi masih banyak yang tidak bisa membaca Alquran, tentu akan dipertanyakan. Karena itu kami terus memperkuat pendidikan Alquran di masyarakat,” pungkasnya.***